Bupati Puncak Pertanyakan Komitmen Pemda Mimika

TIMIKA, TimeX Bupati Kabupaten Puncak, Willem Wandik mempertanyakan komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika terhadap penanganan ratusan warga pengungsi akibat aksi penyerangan di Kampung Tunas Matoa, Iliale, 25 Juli lalu.Sebab, Pemkab Mimika dan Pemkab Puncak sudah bersepakat untuk memberikan bantuan ganti rugi kepada ratusan warga korban aksi penyerangan yang kini masih bertahan di lokasi pengungsian di Gereja GIDI Jemaaat Getsemani, Kelurahan Karang Senang, SP3.

Bupati Puncak – Wellem Wandik

TIMIKA, TimeX

Bupati Kabupaten Puncak, Willem Wandik mempertanyakan komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika terhadap penanganan ratusan warga pengungsi akibat aksi penyerangan di Kampung Tunas Matoa, Iliale, 25 Juli lalu.

Sebab, Pemkab Mimika dan Pemkab Puncak sudah bersepakat untuk memberikan bantuan ganti rugi kepada ratusan warga korban aksi penyerangan yang kini masih bertahan di lokasi pengungsian di Gereja GIDI Jemaaat Getsemani, Kelurahan Karang Senang, SP3.

Komitmen ini dipertanyakan Willem Wandik usai prosesi damai pascakonflik antara kelompok atas dan kelompok bawah di Kwamki Narama, Selasa lalu.

Ia berharap, melalui pendataan kerugian yang dialami warga, mulai dari jumlah rumah yang dibakar dan dirusak, kendaraan berupa mobil dan sepeda motor yang juga dibakar dan dirusak, serta kios milik warga setempat yang dijarah, secepatnya harus diksikapi dan jangan berlarut.

Ia mempertanyakannya, karena belum adanya realisasi penyelesaian persoalan terhadap warga pengungsian dari Pemkab Mimika pascadilakukan pendataan materil dari Pemda Mimika terkait ganti rugi warga korban pengugsian.

Demikian diungkapkan Bupati Willem Wandik kepada wartawan di Rimba Papua Hotel, Rabu (24/8).

“Memang kami sudah bersepakat. Katanya setelah dilakukan pendataan, Pemda Mimika dan Pemda Puncak akan membantu meringankan beban korban pengungsian, baik yang di Timika maupun sebagian besar warga yang memilih mengungsi ke Jayapura.

Kita juga kasihan, sampai kapan mereka berada di pengungsian dan juga di rumah-rumah kerabat dan keluarganya. Termasuk anak-anak mereka yang harusnya mengenyam pendidikan harus bertahan dalam kondisi memprihatinkan di pengungsian,” ungkapnya.

Kondisi ini sangat disayangkan, sebab kebanyakan warga belum kembali ke Iliale karena ketiadaan tempat tinggal  serta terbatas materinya.

Untuk itu, kepada Bupati Mimika dan jajarannya diharapkan segera melakukan upaya nyata terhadap penanganan warga korban pengungsian yang sudah menantikan adanya perhatian Pemda Mimika dan Pemda Puncak sebagaimana komitmen bersama pada pertemuan dengan Kapolda Papua Irjen Pol. Drs. Paulus  Waterpauw akhir Juli lalu.

“Kita ini dipilih rakyat, jadi kalau rakyat butuhkan kita, kita harus ada ditengah-tengah mereka. Kasihan warga disana. Kalau sampai akhir bulan ini belum ada upaya nyat dari Pemda Mimika, saya akan ambil alih. Saya nanti datang lagi untuk rehabilitasi dan bantu warga dengan kerjasama pihak TNI-Polri disini,” tegas Bupati Wandik.

Katanya, persoalan sosial yang terjadi di Timika seharusnya merupakan tanggungjawab pemerintah daerah setempat. Hanya saja, heterogen warga di Timika, juga ada yang datang dari wilayah kabupaten tetangga, seperti dari Puncak, sehingga kami pun prihatin dan terlibat untuk sikapi persoalan ini secara saksama.

Lebih lanjut, ia mencontohkan, keterlibatannya mulai dari mediasi hingga prosesi pembakaran tiga jenzah di Kwamki Narama pada Bulan Juli lalu, itu merupakan komitmen nyata pemerintah melindungi rakyatnya dari persoalan yang terjadi.

“jadi bukan hanya rehabilitasi tapi kita juga harus perhatikan korban jiwa dan harta benda. Banyak memang kerugian yang dialami. Jadi ke depan yang terpenting adalah penegakan hukum positif. Setelah saya turun tangan dan lihat langsung, ternyata penegakan hukum positif belum maksimal. Jangan ada pembiaran, siapapun pelakunya harus diadili,” tegasnya lagi.

Setelah prosesi damai, konseNtrasi selanjutnya adalah penyelesaian masalah rehabilitasi dan ganti rugi harta benda milik warga korban penyerangan.

Adanya dukungan pemerintah dan aparat keamanan,  “Dua ini yang utama dan harus benar-benar jalan. Tidak bisa diam atau satu saja yang jalan. Kalau kita sudah tangani namun kemudian ada yang bikin perang lagi maka tindak mereka. Saya berharap semua ini jadi perhatian. Kami akan ikuti perkembangan ini. Kita berharao mereka serius menangani persoalan ini,” harap Wandik. (a14)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.