Pemda Tutup Galian C Berkedok Normalisasi

TIMIKA, TimeX Pemda Mimika terpaksa menutup aktivitas normalisasi sungai di SP2 hingga SP5 karena mensinyalir oknum pengusaha yang melaksanakan pekerjaan itu hanya memanfaatkannya untuk meraup untung. Bukan aktivitas normalisasi yang diutamakan, melainkan bisnis terselubung penggalian material golongan C yang diutamakan.

Aktivitas normalisasi sungai di SP2 hingga SP5

TIMIKA, TimeX

Pemda Mimika terpaksa menutup aktivitas normalisasi sungai di SP2 hingga SP5 karena mensinyalir oknum pengusaha yang melaksanakan pekerjaan itu hanya memanfaatkannya untuk meraup untung.

Bukan aktivitas normalisasi yang diutamakan, melainkan bisnis terselubung penggalian material golongan C yang diutamakan.

Dengan mengutamakan material galian C berkedok normalisasi sungai, artinya oknum pengusaha tidak mengindahkan kesepakatan kerjasama yang telah dibuat.

Sehingga, melalui rapat evaluasi yang dipimpin langsung Asisten I Setda Mimika Christian Karubaba dan Kepala ESDM Dion Mameyauw, bersama pihak terkait lainnya, maka diputuskan kawasan normalisasi sungai untuk sementara dihentikan operasinya atau ditutup.

Pada pertemuan yang digagas Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) di Ruang Rapat Lt.3 di Kantor Pusat Pemerintahan, Jumat (9/9) dihadiri pula Staf Ahli Bupati Wansudin Purba dan juga Kepala Dinas Tata Kota Yohanis Batto.

Lainnya, Kadistrik Mimika Baru Ananias Faot, Sekretaris Dispenda Inosensius Yoga Pribadi serta Kabid Fispra Caspar termasuk perwakilan SKPD terkait lainnya.

Mengawali pertemuan, Kadis ESDM, Dionisius Mameyau, mengatakan ijin normalisasi sungai waktu itu dikeluarkan oleh pejabat lama, menyusul dikeluarkannya lagi dua rekomendasi ijin baru.

Artinya, untuk kegiatan normalisasi sungai SP2 dan SP5 sudah diterbitkan tiga rekomendasi, yakni dua rekomendasi tanpa perintah bupati dan satu rekomendasi dengan kontraktor CV Bram Bersaudara resmi mengantongi ijin dari Bupati Mimika Eltinus Omaleng.

“Hanya saja, dari survei lapangan yang kita lakukan, lokasi normalisasi dari SP2 sampai SP5 menurut saya tidak terkendali karena rekomendasi yang dikeluarkan untuk normalisasi hanya sepanjang tiga kilometer dari hilir ke hulu. Tapi kenyataan di lapangan tidak sesuai,” tegas Dion.

Bahkan, lanjut Dion, dengan memanfaatkan galian C berkedok proyek normalisasi sungai SP2 hingga SP5, pihaknya tidak bisa memungut  retribusi pajak dari lokasi galian C di Iwaka.

Apalagi, truck yang hendak memuat material golongan C lebih memilih mengambilnya di lokasi SP2 yang juga murah, yakni per retnya hanya Rp125 ribu.

“Makanya ini yang mau kita kaji ulang sebelum ada persoalan dibelakang nanti, tukasnya.

Sementara Kadistako Yohanis Batto, menegaskan, kegiatan normalisasi sungai seyogyanya harus ada perencanaan matang, yakni kedalaman sungai dan luasannya yang harus digali.

“Yang sekarang ini kedalamannya sudah lebih tiga meter. Saya juga lihat sekarang ini bukan lagi normalisasi, karena hulunya sudah semakin tinggi. Jadi harus dikoordinasikan baik sebelum dilanjutkan,” tukasnya.

Kesempatan yang sama, Kadistrik Mimika Baru, Ananias Faot, menyatakan pihaknya pernah meninjau lokasi normalisasi SP2 yang juga dikawasan itu rencananya dibangun tempat wisata dari progam Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua.

“Kalau terkait normalisasi sebaiknya ditutup dulu dan dikaji ulang sehingga ke depan ditata lebih baik dan sesuai,” tandasnya.

Mengakhiri pertemuan itu, Asisten I Setda Mimika, Christian Karubaba menyatakan, saran dan masukan dari evaluasi ini akan dirampungkan, selanjutnya dilaporkan ke Bupati Mimika.

“Nanti jawaban dan keputusan dari bupati akan kita sikapi pada pertemuan selanjutnya,” tegasnya.  (a13)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.