Setahun, 15 Ribu Pasien di Papua Digigit Ular

TIMIKA, TimeX Pihak Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) menggelar seminar dan workshop bertajuk pedoman baru

Pihak Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) menggelar seminar dan workshop bertajuk pedoman baru managemen penangaman gigitan ular 2016 (new guideline of snake bites management 2016).

RSMM Gelar Seminar dan Workshop Gigitan Ular TIMIKA, TimeX Pihak Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) menggelar seminar dan workshop bertajuk pedoman baru managemen penangaman gigitan ular 2016 (new guideline of snake bites management 2016). Seminar pertama kali yang baru dilaksanakan di Timika, khususnya di RSMM itu menyikapi kasus pasien digigit ular di Papua termasuk tinggi di Indonesia. Dari rekam medik, dalam setahun tercatat 15 ribu pasien di Papua digigit ular. Selain itu, pasien yang digigit ular berbisa jenis death adder yang banyak di Timika, pastinya menelan biaya yang tidak sedikit, dengan sekali suntikan vaksin bisa menghabiskan biaya hingga Rp70 juta. Kondisi ini diperparah dengan proses pemesanan vaksin harus dilakukan terlebih dahulu. Untuk itu pemerintah daerah harus konsen serta berusaha untuk memproduksi vaksin massal secepatnya sehingga mudah diperoleh dan ditangani khusus pula. Demikian disampaikan Direktur RSMM, dr Bernadus F.S, Sp.BTKV saat membuka secara resmi kegiatan seminar dan workshop di Aula St. Michael RSMM, Senin (3/10) kemarin. Kegiatan tersebut menghadirkan pemateri dari Departement Environmental PT Freeport Indonesia, DR. dr.Tri Maharani, M.Si, dan dr. Christian Budiman yang khusus menangani tentang vaksin ular. Hadir pula Alam Prakosa yang menangani IT untuk pendataan, termasuk peserta lainnya dari fasilitas kesehatan, anggota TNI-Polri dan juga Comunitas Reptil Timika. Dr. Bernadus menambahkan, melalui seminar dan workshop ini, peran tenaga medis sangat penting dan diperlukan untuk melakukan sosialisasi kepada khalayak banyak. “Harapan kami tenaga medis memiliki pengetahuan, keterampilan dan jaringan dalam menangani kasus gigitan ular, sehingga korban yang ditangani dan selamat akan lebih banyak,” harapnya. Sementara itu, Ketua Panitia Seminar dan Workshop, Valentinus Yulipramono menegaskan, setiap ada orang yang digigit ular kebanyakan masyarakat panik dan tidak mengetahui caranya menangani awal ketika digigit ular. “Biasanya orang ketika digigit ular mereka lari. Sebenarnya tidak usah lari. Melalui seminar ini, kita mau sharing  dengan pihak rumah sakit ketika tangani pasien digigit ular harus memiliki fasilitas yang memadai,” jelasnya. Kata Yulipramono, kasus pasien digigit ular di Timika sejak Januari hingga hingga September 2016, oleh pihak RSMM telah menangani 4 kasus pasien digigit ular berbisa hingga korban tidak sadarkan diri saat dilarikan ke  caritas (RSMM-Red). “Puji Tuhan semua pasien yang ditangani selamat. Kebanyakan kasus gigitan ular terhadap pasien itu terjadinya di kebun,” tambah Yulipramono. Saat itu juga pemateri menjabarkan cara penanganan terhadap pasien ketika diggiit ular. “Intinya jangan panik, setelah itu, diantara bekas gigitan ulat harus dipasang perban yang diikat kuat dan kecang agar bisa ular tidak menyebar, sebelum dilakukan tindakan medis. Kata Yulipramono, kebanyakan masyarakat belum memahami cara penanganannya, apalagi biaya medis bagi pasien yang digigit ular dengan sekali suntik vaksin 40 cc bisa menelan biaya hingga Rp70 juta. Katanya pula, selain belasan ribu kasus gigitan ular yang tinggi, kasus serupa sama halnya dengan TBC atau HIV yang belum terdata baik.  (a20/ a9)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.