43 Dokter Ikut Pelatihan Tata Laksana Kasus Malaria

TIMIKA,TimeX Sebanyak 43 dokter dari Maluku Papua dan Nusa Tenggara Timur mengikuti pelatihan tata laksana kasus malaria

FOTO BERSAMA- Wakil Bupati Mimika Yohanis Bassang foto bersama Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika Philipus Kehek, Direktris BLUD Mimika dr. Evelyn S.M, Pasaribu dan sejumlah dokter perwakilan Mimika usai pelatihan tata laksana kasus malaria di ruang rapat RSUD Mimika, Senin (7/11).Foto : Tanty Sagala/TimeX

TIMIKA,TimeX

Sebanyak 43 dokter dari Maluku Papua dan Nusa Tenggara Timur mengikuti pelatihan tata laksana kasus malaria di ruang rapat RSUD Mimika, Senin (7/11) sampai Rabu (11/11).

Ketua Panitia kegiatan Jeanne Rini Poespoprodjo menjelaskan 43 dokter tersebut merupakan dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam, spesialis penyakit anak dan dokter spesialis penyakit saraf. “Peserta utusan dari Maluku sebanyak empat orang, NTT 13 orang, Jayapura empat orang, Unicef dua orang dan utusan RSUD Mimika 20 orang,” terang Jeanne saat ditemui Timika eXpress, Senin (7/11).

Dikatakan dalam kegiatan itu metode pelatihan yang dilakukan berupa seminar, tanya jawab, diskusi pembahasan kasus malaria, persentasi kasus dan melihat langsung pasien malaria berat serta penanganannya.

“Kita berharap dengan pelatihan ini dapat menekan jumlah penderita malaria di daerah endemik malaria,” ujarnya.

Pelatihan itu menghadirkan pemateri dari  Kepala Sub Direktorat Malaria Kementerian Kesehatan RI,  Dr. Elvieda Sariwati, M.epid. Konsultan penyakit tropis Rumah sakit Betesda Tomohon, Manado, dr. Paul Hariyanto, SpPD. KPTI. Konsultan parasitologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. DR.dr Igne Soetanto, M.phil, Sp. Park. Kepala Divisi Tropik dan Infeksi, Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Kabid Pengendalian Masalah Kesehata Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Saiful Taqin. Perwakilan RSUD Kabupaten Mimika, dr. Ketut Marthayasa Sp.OG, perwakilan dari Malaria Control PT. Freeport Indonesia Dr. Haripurnomo Kushadiwijaya Mph.DrPH dan Edi Harianto.

Sementara itu Wakil Bupati Mimika Yohanis Bassang dalam sambutannya saat membuka kegiatn tersebut mengungkapkan bahwa penyakit malaria menjadi masalah kesehatan masyarakat secara global maupun nasional. Papua menjadi salah satu daerah endemik malaria dengan jumlah kasus terbanyak.

“Pemerintah Daerah sangat mendukung upaya pengendalian malaria melalui kegiatan pencegahan maupun pengobatan,”kata Wabup.

Ia menyebutkan untuk menekan kasus Malaria, Kabupaten Mimika merupakan daerah pertama di Indonesia  yang menggunakan terapi kombinasi artemisinin sebagai obat anti malaria sejak Bulan Maret yang lalu.

Fasilitas Laboratorium untuk diagnosa malaria juga telah dilengkapi dan tenaga mikroskopis yang terlatih.  Selain itu RSUD Mimika menjadi salah satu pusat rujukan kasus malaria berat yang telah memenuhi standart kesehatan (WHO) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

“RSUD sangat tepat dijadikan tempat pelatihan kasus malaria berat,” ujar Bassang.

Ia berharap,  43 dokter yang mengikuti pelatihan ini dapat mengoptimalkan kualitas tata laksana penanganan malaria. Sehingga kedepannya dapat berkontribusi nyata dalam penurunan angka kesakitan dan kematian akibat malaria.

“Saya berharap, kegiatan ini dapat bermanfaat bagi pengendalian malaria, khususnya dalam penemuan kasus dan pengobatan malaria secara cepat dan tepat,”harapnya.

Menyusul, Direktris RSUD Mimika dr. Evelyn S.M, Pasaribu , MM.Kes menjelaskan pelatihan ini merupakan kerja sama antara RSUD Mimika dengan Yayasan Pengembangan Kesehatan Masyarakat Papua dan Perdhaki.

“Kegiatan ini kami laksanakan untuk memberikan pengetahuan dan informasi terkini serta pengalaman penanganan malaria  berat dirumah sakit, berdasarkan pedoman penanganan malaria berat WHO,” ujar dia.

Dikatakan Informasi terkini yang dimaksud adalah  berbasis bukti mengenai patofisiologi, terapi dan epidemiologi malaria. Serta pemahaman mengenai sistem rumah sakit yang dibutuhkan agar dapat menyediakan pelayanan 24 jam deteksi dini dan pengobatan segera dengan obat yang efektif untuk kasus malaria berat.

“Sangat penting melakukan deteksi dini dan pengobatan segera dengan menggunakan obat anti malaria yang efektif. Harapan kami dokter yang telah mengikuti pelatihan dapat menerapkan konsep ini di tempat tugas masing-masing,”harapnya. (a10)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.