Terminal Bayangan Menjamur, Dishubkominfo Lengah

 

TIMIKA, TimeX Keberadaan sejumlah terminal bayangan di wilayah Timika kini menjadi salah satu kendala penataan wajah Kota.

Salah satu terminal bayangan yang ada di Area Pasar Sentral lama.

TIMIKA, TimeX

Keberadaan sejumlah terminal bayangan di wilayah Timika kini menjadi salah satu kendala penataan wajah Kota. Kondisi ini menunjukan kinerja Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) belum maksimal dan masih lengah.

Ironsinya lagi, meski telah ada Terminal Pasar Sentral, para sopir mini bus dan juga truck lebih memilih menunggu penumpang di luar terminal.

Kondisi itu membuat sejumlah kawasan strategis di wilayah ibu kota sudah menjadi terminal bayangan.

Keberadaan teminal bayangan ini cukup banyak. Tapi yang paling sering di tempati adalah sekitar kawasan Jalan Belibis yang banyak diparkir truck, Jalan Yos Sudarso, tepatnya di depan Toko Yasmin, termasuk Jalan Bhayangkara kawasan eks Pasar Swadaya.

Lebih ironisnya, lama parkir kendaraan di terminal bayangan makan waktu lama bahkan berjam-jam sehingga mengganggu arus lalu lintas di jam-jam ramai.

Yang sedikit tertata rapi adalah terminal taksi rental, meski ada sebagian masih melakukan parkir liar di sejumlah ruas jalan dalam Kota Timika.

Sebagaimana hasil penelusuran wartawan Timika eXpress, alasan mendasar para supir lebih memilih mangkal di terminal bayangan dari pada terminal yang disediakan pemerintah, karena di terminal resmi sulit mendapatkan penumpang.

Apalagi dengan banyaknya ojek yang tidak diata baik dan semakin hari semakin bertambah banyak, jasa angkutan ini menjadi dominan karena langsung ke tempat tujuan dari pada harus menunggu mobil angkutan, jika sudah bermangkal di terminal.

Sayangnya, kondisi ini terkesan sudah berapa tahun belakangan ini dibiarkan tanpa ada penertiban terminal bayangan.

Kondisi ini perlu disikapi baik dan serius, karena kalau tidak menjadi ancaman, melihat pertumbunan  kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat yang terus meningkat.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Kadishubkominfo), Jhon Rettob saat diwawancarai Timika eXpress di ruang kerjanya, Senin (28/11), mengatakan bahwa terminal bayangan (liar)  tidak mengantongi ijin untuk parkir semaunya.

Menindaklanjuti pengawasan serta penertibannya harus dilakukan secara kompherensif, dengan melibatkan pihak Disperindag, Satpol PP, bahkan TNI-Polri.

Kata John, banyak sekali unsur yang harus berperan agar parkir angkutan tertata baik.

“Kalau di Timika sekarang baru ada satu terminal di Pasar Sentral. Perhubungan mau mengubah rutenya, tapi ada kendala soal jalan.  Tidak akan muncul parkir liar apabila rutenya bagus yang bisa memberikan efektifitas dan efesiensi bagi penumpang dan keuntungan bagi angkutan,” jelasnya.

Menurut dia, persoalan rute jalan yang belum maksimal, termasuk lebar jalan dan fasilitas jalan yang ada tidak mencukupi. Tentu ini harus ada kerja sama  dengan Dinas Pekerja Umum (DPU).

“Angkutan parkir biasanya di pusat keramaian dan ada konsumen yang mau menggunakan kendaraan.  Biasanya orang yang menggunakan kendaraan ada disekitar pasar, baik itu penjual maupun  pembeli. Berdasarkan Perda, kita baru punya satu terminal, jadi maish banyak angkutan parkir sembarang tempat,” jelasnya.

 

Terkait hal ini, lanjut John, pihaknya sudah membicarakannya bersama Disperindag.

Bahkan rencana Disperindag mau merelokasi pasar tumpah dan pasar tidak resmi ke Pasar Sentral, dengan maksud terminal angkutan di lokasi tersebut bisa lebih dimaksimalkan.

“HanyaT saja sampai saat ini Disperindag  belum siap,” tegasnya.

Dengan adanya satu terminal, untuk membangun terminal baru, itu tidak dapat dilakukan sembarangan, karena membangun terminal harus berdasarkan hasil studi kelayakan.

Kata John, ada empat jenis terminal, yakni tipe A untuk menghubungkan lintas provinsi, tipe B  ada di provinsi untuk menghubungkan kabupaten dan terminal tipe C menghubungkan angkutan dalam kabupaten.

“Sementara di Timika hanya ada  terminal tipe C yang ada dipasar sentral. Sesudah terminal tipe C pihaknya juga akan membangun sub terminal. Sub terminal juga tidak dibangun disembarang tempat. Tahun ini kita lakukan studi, baru kita bangun,” tambahnya.

Lebh lanjut katanya, setelah dibangun sub terminal, menyusul akan dibangun terminal tipe halte, dimana angkutan kendaraan hanya datang mengangkut penumpang terus berjalan.

“Kita juga sudah rencanakan rubah sistem angkutan Kota Timika, yakni sistem angkutan massal. Nanti studinya kita lakukan tahun ini sehingga dijalankan mulai 2017,” tandasnya. (a10)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *