Harga Kesetiaan Membalut Harapan Hidup Penderita Kusta di Mumugu (Bagian-1)

Panggilan menjadi misionaris tidak seperti dibayangkan masyarakat awam. Tugas pengabdian tulus dengan cinta kasih menjadi totalitas. Itulah pengakuan lahiriah spiritualitas konggregasi PRR.

Penderita Kusta di Mumugu

Panggilan menjadi misionaris tidak seperti dibayangkan masyarakat awam. Tugas pengabdian tulus dengan cinta kasih menjadi totalitas. Itulah pengakuan lahiriah spiritualitas konggregasi PRR. Meski secara manusiawi sempat stres. Stres bukan karena mereka tidak bisa memberi harapan hidup kepada pasien penderita kusta. Juga bukan tidak bisa merawat dan membalut luka-luka warga masyarakat Mumugu.

Laporan : Fidelis Sergius Jeminta – TimeX

Medio 15 Agustus 2014 tidak sekedar hari awal Konggregasi Putri Renya Rosari (PRR) menapaki bekas kaki para Misionaris Salib Suci masuk di Keuskupan Agats. Hari itu juga merupakan hari sakti dalam sejarah perjalanan spiritualitas Konggregasi PRR merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 50.  Dibalik kesaktian HUT itu terpancar pula  sebuah pertarungan harga kesetiaan dan ketulusan. Iman dan kekuatan fisik diuji. Kesabaran dan ketekunan, kerendahan hati dan kelemahlembutan ditakar. Spiritualitas PRR ditimbang menyapa dan membalut luka 177 orang warga Kampung Mumugu I dan Mumugu II, Distrik Sawa Erma, Kabupaten Agats yang kehilangan jari tangan sampai buntung.  Kehilangan jari kaki hingga tanpa telapak kaki. Aroma harum dari luka-luka borok akibat diserang virus penyakit kusta dihirup.

“Saya secara manusiawi sempat stres. Stres bukan karena saya dan teman-teman saya dari satu Konggregasi tidak bisa memberi harapan hidup kepada pasien penderita kusta. Juga bukan tidak bisa merawat dan membalut luka-luka warga masyarakat Mumugu. Kami stress akibat dari semangat hidup yang berbeda dengan warga setempat.  Stress menghadapi tembok budaya dan bahasa. Sehinga, tidak bisa berdialog dari hati ke hati. Namun, seiring waktu berlalu, bahasa tubuh dan penterjemahlah yang menumbuhkan semangat hidup saling percaya antara kami dan para penderita kusta. Maka, kami bisa saling menguatkan dan meneguhkan satu sama lain. Hasilnya, mereka mau dirawat, diobati dan disiplin meminum obat,” tutur Sr. Maria Theodora, PRR  asal Flores, NTT mengisahkan lika-liku merawat pasien kusta di Kampung Mumugu sambil memperkenalkan rekannya se-Konggregasi: “Suster Kepala Rumah, Sr. Maria Gabrielis, PRR, Sr. Maria Angela Rose, PRR dan Sr. Maria Marlena, PRR. Suster Maria Marlena PRR  ini asli Papua dari suku Mee, tepatnya dari Bilogai kepada media ini, di Keuskupan Agats, Senin (9-1).

Kronologi hadir ditengah-tengah pasien kusta di Kampung Mumugu I dan II, Dorothea mengisahkan, berawal dari mantan Mentri Kesehatan RI, Nafsia Mboi pernah mengunjungi daerah itu dan meminta Provincial PRR mengutus suster-suster PRR ke Mumugu. Karena, Nafsia Mboi pernah menyaksikan keberhasilan suster-suster PRR merawat pasien kusta di Kewamenanu, Timor Tengah Utara (TTU).

Permintaan Nafsia Mboi ini disusul kemudian, Bapak Uskup Keuskupan Agats, Mgr. Aloysius Murwito, Ofm meminta Provincial PRR mengirim suster yang memiliki keahlian menangani kusta, tenaga katekese dan pendidikan. “Kami hadir ditengah pasien Kusta di Mumungu bukan karena permintaan Mentri Kesehatan, Nafsia Mboi. Kami datang melayani pasien disana lebih memenuhi permintaan Bapa Uskup. Karena Keuskupan Agats memiliki Yayasan Alfonsesowada, OSC yang bergerak dalam pelayanan khusus Penyakit Kusta. Itupun kami dikontrak selama 4 tahun, tahun depan sudah selesai kontraknya. Perpanjangan kontrak tergantung Ketua Yayasan Alfonsesowada, OSC, Pastor Hendrik OFM,” kisahnya mengenang sambil mengerlingkan mata ke arah Pastor Hendrik yang sedang sibuk menghadapi setumpuk pekerjaan dihadapan meja kerjanya.

Letak Kampung Mumugu I dan II itu, jelas Theodora ke arah utara pusat Ibu Kota Asmat, menyusuri Sungai Unir. Dan perjalanan kesana dijangkau dengan menggunakan speadboad atau longboad,  dengan jarak tempuh lima jam lebih bila tidak ada kendala dalam perjalanan. “Pemandangan sepanjang perjalanan sangat memukau menyaksikan panorama alam yang indah. Menikmati semilir angin sungai dan ombak jenaka dari kali kabur yang menari-nari menerpa speadboad. Indah dan menawan menyusup sukma. Warga masyarakatnya polos dan lugu,  walau dibalut aroma kemiskinan dan membutuhkan tangan dan hati  siapa saja yang rela menuntun mereka menatap masa depan yang lebih cerah. Membebaskan anak-anak usia belajar dari buta aksara. Mendampingi mereka memanfaatkan kekayaan alam yang bertumbuh subur menemani hari-hari hidup mereka,” tuturnya puitis. (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.