Harga Kesetiaan Membalut Harapan Hidup Penderita Kusta di Mumugu (Bagian 2-Habis)

Menjadi misionaris adalah panggilan ilahi. Meski awalnya sempat stres, para suster kongregasi PRR tidak patah arang menguatkan dan meneguhkan penderita kusta.

Sr. Maria Dorothea,PRR Sedang mengobati luka warga yang menderita penyakit kusta.

Menjadi misionaris adalah panggilan ilahi. Meski awalnya sempat stres, para suster kongregasi PRR tidak patah arang menguatkan dan meneguhkan penderita kusta. Mulai dari membersihkan luka, membalut dan mengobati luka dari rumah ke rumah,  serta menyiapkan makanan bergizi guna mempercepat proses penyembuhan, sebagai harapan akhir dari misi panggilan biarawati

Laporan : Fidelis Sergius Jeminta – TimeX

Perawatan pasien penderita kusta sejak Agustus 2014 diawali dengan perkenalan, memahami semangat hidup warga setempat, dan meraih pintu masuk menangani kusta dengan belajar bahasa setempat dan membuka sekolah alam bagi anak-anak usia sekolah dengan Pastor Hendrik OFM.  Sehingga, 1 Januari 2015, Suster-suster PRR  ada yang mulai menangani penderita kusta dari rumah ke rumah dan  yang lain menangani sekolah alam. Penanganan penderita kusta, terdata dari dua kampung itu  400 jiwa. Dari 400 jiwa warga Kampung Mumugu I dan II teridentifikasi atau terdiagnosa kusta di tiap rumah 177 orang,  suster-suster bingung. Keuskupan sebagai pemilik Yayasan belum memiliki Poliklinik. Untung Kepala Kampung dan warga setempat sepakat Balai Kampung dijadikan tempat Poliklinik dan tempat memasak untuk menambah gizi pasien penderita kusta.

“Dari situlah kami memulai hadir menguatkan dan meneguhkan penderita kusta. Mulai dari membersihkan luka, membalut dan mengobati luka dari rumah ke rumah, dan menyiapkan mereka makan  menambah gizi untuk mempercepat proses penyembuhan. Kami tidak rumahkan mereka. Kami yang mendatangi dari rumah ke rumah. Mereka ke Balai Kampung hanya untuk makan da minum obat. Itu dilakukan supaya bisa memastikan, mereka disiplin minum obat. Kalau mereka disiplin minum obat sesuai standard WHO enam bulan sudah bisa sembuh untuk kusta kering dan sembilan bulan untuk kusta basah,” tuturnya.

Dia menceriterakan, yang lucu itu, kalau makan, pasien khan hanya satu orang dari tiap rumah misalnya Bapak atau Ibu, yang ikut makan itu satu keluarga. “Kami kadang-kadang lucu dan ketawa menghadapi situasi seperti itu. Ya, mau apa, kita hadapi dengan senang hati saja layani. Karena situasi itu juga menyentuh dan memotivasi kami semangat berdoa ada tangan lain yang mensuport pelayanan kami. Puji Tuhan!  Pemda Asmat cukup suport memberi dukungan dana dan obat-obatan tidak pernah terlambat didistribusi,” katanya tanpa menyebutkan berapa besar dana yang disuport Pemda Asmat tiap tahun, kecuali dia berkata: “Yang tahu persis Ketua Yayasan. Kami hanya pendukung Yayasan,” katanya sambil ketawa terkekeh-kekeh  mengarah ke Pastor Hendrik.

Suport Pemda Asmat rupanya berdampak, Yayasan Alfonsesowada milik Keuskupan Agats akhirnya memiliki Poliklinik untuk pelayanan pasien kusta dan melayani pengobatan penyakit yang lain. Maka pelayanan di Balai Kampung dan tempat masak mensuport gizi pasien hanya satu setengah tahun,  dari 1 Januari 2015 sampai 9 Oktober 2016. Menempati Poliklinik baru 9 Oktober 2016 hingga kini. Buah dari penanganan sejak 1 Januari 2015 hingga kini terhadap 177 orang pasien, 147 orang sudah sembuh dan tinggal 30 orang yang sedang ditangani secara serius.  “Kami sama sekali belum bangga dengan hasil itu. Karena, kami harus bekerja keras bagaimana bisa menangani penyakit kusta secara bio psiko sosial spiritual,” timpalnya menanggapi media ini ketika dibilang, “suster-suster bangga tidak dengan hasil seperti itu.”

Dia menjelaskan, penanganan penyakit kusta itu tidak hanya sekedar membersihkan luka, membalut dan mengobati. Penanganannya secara holistik atau apa yang disebut bio psiko sosial spiritual. “Saya ambil contoh misalnya. Ada pasien yang bilang, suster saya sudah berobat dan minum obat selama 6 bulan kok belum sembuh. Untuk menyapa pasien yang bertanya seperti itu bukan hanya menjawab secara medis. Tetapi, mereka disapa sambil mengajak mereka berdoa. Berarti spiritual hidup doa penting. Maka saya kadang ada yang bilang seperti itu. Saya menjawab kurang berdoa kali, dia pasti senang atau setidak-tidaknya dia diajak untuk selalu berdoa. Berarti kita membagi kepada mereka kekuatan doa. Maka penanganan kusta itu bukan hanya mengobati dan menyembuhkan. Kehadiran kita, semangat untuk saling membagi, menguatkan dan meneguhkan, ini pendekatan yang amat efektif,” jelasnya.

Selain itu, pasien didampingi untuk membiasakan diri mandi tiga kali sehari. Membiasakan hidup sehat dari lingkungan tempat tinggal, berarti lingkungan tempat tinggal harus bersih dan menata kehidupan ekonomi. Karena, penyakit kusta sangat rentan dengan kurang gizi. Berbicara kurang gizi, kata Sr. Dorothea berhubungan erat  dengan ekonomi. Lalu, masalah pendidikan. Warga masyarakat bisa berprilaku hidup sehat,  apa bila mereka memiliki pendidikan yang cukup. Maka, kita bisa bertanya apakah kedepan penyakit kusta bisa diberantas. Jawabannya, Bisa ya dan tidak, karena tergantung, warga membiasakan hidup sehat dan tercukup sandang dan papannya.

“Saya tidak berani bilang bisa diberantas. Kalau soal penyakit kusta bisa disembuhkan, ya mudah disembuhkan sesuai standard WHO dan kebetulan saya berlatarbelakang perawat. Karena hanya ada dua type penyakit kusta, yaitu type kusta kering dan kusta basah. Kusta kering kalau pasien disiplin minum obat, enam bulan bisa sembuh, jika lebih sedikit lebih dari tidak disiplin minum obat. Type basah bisa disembuhkan selama 9 bulan atau sampai 12 bulan bila tidak disiplin minum obat,” katanya.

Ditanya soal yang bersangkutan tidak risih dan berat berhadapan dengan pasien kusta  serta mengapa pasien tidak diisolasi, dia menegaskan sambil berbalik tanya. Mengapa mesti risih dan merasa berat. “Kita tidak akan risih dan merasa berat kalau dijalani dengan hati yang tulus. Dan masyarakat disini sangat pintar bisa membaca bahasa tubuh dan isi hati orang lewat mimik dan gerak. Kami beruntung spiritual PRR memang dituntun untuk hadir saling menguatkan dan meneguhkan satu sama lain.  Sehingga kami merasa bahagia bisa menolong mereka yang perlu ditolong,” tuturnya sambil menggerakan jari telunjuk.

Lalu, ia mengingatkan, keliru kalau mengisolasi pasien penderita kusta. Karena, kunci pelayanan terhadap pasien penderita kusta melayani secara tulus. Ketika pelayan melayani pasien di rumahnya. Pasien merasa mendapat penghargaan dan disentuh secara psikologis. Itu sebuah proses awal mendorong pasien cepat sembuh dan termotivasi untuk bangkit melawan penyakit yang dideritanya.  Pendekatan di rumah pula  bisa salaing menuntun dalam pembinaan hidup rohani dan bisa membangun dialog terbuka. Ia mencontohkan, pertemuan itu pula bisa menjadi momen saling belajar bahasa setempat atau sebaliknya belajar bahasa Indonesia. “Itu makanya kami lebih memilih melayani pasien di Mumugu melayani mereka di rumah-rumah. Ini juga kunci untuk membangun saling percaya antara pasien dan perawatnya,” tuturnya sambil berkata: “Maaf saya menyita waktu anda.”

Ketua Yayasan Alfonsesowada, Pastor Hendrik, OFM menjelaskan secara detail bahwa penanganan penyakit kusta selain ditangani secara holistik dan integral. Juga harus selaras dan terintegrasi dengan pendekatan pastoral yang holistik. Secara medis, kata Hendrik bakteri penyakit kusta bisa kena semua orang yang selulernya rendah atau menurun. Sisi lain, pola hidup dan asupan gizi yang tidak menunjang dari faktor ekonomi. Apa bila, kesehatan lingkungan tempat tinggal tidak terjamin berarti pengetahuan amat terbatas.

“Itulah alasan mengapa kita tangani secara holistik. Baik dari sisi programnya, kesehatan, pendidikan, ekonomi, budaya dan spiritualitas untuk penguatan dari hati dan batin. Karena bisa jadi orang tidak menyadari mereka sedang sakit. Apa yang kurang disitu, kurangnya dari sisi spiritual, mereka tidak memahami bahwa tubuh itu anugerah Allah,” jelasnya.

Dia mengaku perhatian Pemda Asmat cukup baik dari sisi penyediaan anggaran cukup bertanggung jawab dan memiliki komitmen yang tinggi. Hanya Pemda kurang proaktif dalam hal mengeleminir hambatan yang terjadi di lapangan dan mengevaluasi secara rutin persoalan-persolan itu. “Bagi saya bukan hanya suport dana dan distribusi obat.  Tetapi juga ikut aktif bersama yayasan mengevaluasi penanganan kusta ini secara holistik. Saya sudah berkali-kali bertemu, terutama Dinas Kesehatan (Dinkes) harus pro aktif.  Persoalannya hanya kasih uang tetapi tanggung jawab monitoring dan evaluasi bersama ini menurut saya jauh lebih penting,” katanya.

Dia menyebutkan, titik rawan lain di Asmat soal penyakit kusta, terutama di Distrik Suator, di Kampung Kardis, Daikot, Wagabus, Wowi dan di Atj. Pentingnya evaluasi dan monitoring tadi supaya Yayasan bersama Pemda Asmat cepat mengeleminir untuk memutus mata rantai kusta ini. “Itu yang saya harapkan Dinkes pro aktif,” harapnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *