Atasi Mafia, Daerah Tidak Bisa Intervensi

ASMAT, TimeX Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos mengaku ada kesulitan dalam mengatasi mafia kayu gaharu yang berdampak buruk terhadap mandegnya pelayanan pendidikan

Kayu Gaharu. (insert) Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos.

ASMAT, TimeX

Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos mengaku ada kesulitan dalam mengatasi mafia kayu gaharu yang berdampak buruk terhadap mandegnya pelayanan p

endidikan dan kesehatan di beberapa distrik dan kampung di wilayah Kabupaten Asmat. “ Itu benar. Saya bisa lakukan intervensi sebenarnya untuk memutus mata rantai mavia bisnis kayu gaharu. Tetapi saya tidak bisa intervensi. Karena proses perinzinannya  dan wewenangnya berada di KSDA. Meskipun begitu, saya akan diskusikan dengan KSDA supaya bisa ditertibkan,” akunya kepada media ini ketika ditanyai soal solusi mengatasi sindikat bisnis kayu gaharu yang membelit kehidupan warga Asmat berutang Bama dan memaksa mereka dari waktu ke waktu selalu masuk hutan, di Hotel Assedu Asmat, Jum’at pekan lalu.

Dikatakannya sebelum pihaknya menertibkan kasus tersebut melalui pendekatan diskusi dengan KSDA. Ia memulai dengan memotivasi warga dengan pendekatan selalu berada ditengah mereka. “Bagian dari saya kunjungi semua kampung di wilayah Kabupaten Asmat secara rutin itu untuk mendekatkan diri dengan mereka. Pola saya selalu hadir  bersama mereka. Saya berharap mereka bisa mendapat sentuhan, memotivasi mereka mulai membangun kampungnya dengan  ADD. Lebih jauh, saya berharap mereka berubah mainset berpikir mulai hidup dengan bercocok tanam,” harapnya.

Menurutnya pola yang dilakukan para pebisnis kayu gaharu mengikat masyarakat dengan sistem menyediakan Bama dan transaksinya selalu di dalam hutan bukan di kampung. “Ini kita bisa tertibkan. Supaya transaksi jual beli kayu dilakukan di kampung bukan di hutan. Dengan pendekatan seperti ini kita bisa awasi dan membantu warga masyarakat. Makanya,  saya sebisa-bisanya selalu berada ditengah mereka. Sehingga mereka memiliki kekuatan bahwa pemimpin mereka berada bersama mereka,” tuturnya sambil berkata:  “Itu saya bisa lakukan sambil memberi motivasi mereka bisa hidup dengan bercocok tanam dengan begitu mereka memiliki pendapatan tetap.”

Dari berbagai sumber dan salah satu warga dari Kampung Akat, Petrus B menyebutkan, cara para pebisnis kayu gaharu mengikat masyarakat itu dengan menyediakan Bama lalau masuk hutan. Transaksi jual beli di dalam hutan. Hasil selalu tidak bisa menutup Bama. Pemilik Bama keluar dari hutan ambil Bama. Masyarakat menunggu di dalam hutan. “Jadi masyarakat itu hanya berada dalam hutan. Itu yang membuat anak mereka tidak sekolah. Banyak sekali anak-anak, orang dewasa dan orang tua yang meninggal di dalam hutan. Akibat malaria dan ada kasus yang saya saksikan sendiri kekurangan Bama,” akunya berapi-api. (del)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *