Kopi Amungme, Primadona Kelas Internasional dari Tanah Papua

Tanah Papua bukan hanya terkenal dengan keeksotisan budaya, kekayaan sumber daya alam, atau flora dan fauna yang memukau. Lebih dari itu, ternyata papua juga memiliki tanaman kopi yang sangat menggoda, namanya kopi Amungme. Kopi ini memikat hati, bukan hanya masyarakat lokal, namun sampai ke blantika internasional

Kopi Amungme

Mengetahui Lebih Dekat Kontribusi PTFI di Mimika (Bagian 4-Habis)

Tanah Papua bukan hanya terkenal dengan keeksotisan budaya, kekayaan sumber daya alam, atau flora dan fauna yang memukau. Lebih dari itu, ternyata papua juga memiliki tanaman kopi yang sangat menggoda, namanya  kopi Amungme. Kopi ini memikat hati, bukan hanya masyarakat lokal, namun sampai ke blantika internasional

Rombongan wartawan dari Timika dan Jayapura bulan Agustus 2016 lalu  berkesempatan melihat langsung pabrik pengolahan Kopi Amungme ( Amungme Gold Cofee), kopi original dari tanah Papua yang dikembangkan PT Freeport Indonesia (PTFI).

Memasuki kawasan pabrik pengolahan di base camp area low land (dataran rendah), aroma kopi terasa menyeruak sebelum rombongan turun dari mobil. Seketika Pembina Koperasi Amungme Gold Coffee, Arnold Sanadi pun menyambut kami dengan ramah dan langsung diarak ke pabrik pengelolaan biji kopi, mulai dari proses sangrai sampai menjadi bubuk kopi hingga pengemasannya.

Arnold juga menjelaskan, kopi Amungme ditanam dan dibudidayakan oleh suku Amungme yang tinggal di dekat tambang Freeport Tembagapura, yang merupakan salah satu suku utama binaan PT Freeport Indonesia. Satu suku utama lainnya adalah Kamoro.

Kopi Amungme ditanam di ketinggian 2.500 mdpl pada sejumlah kampung yaitu Kampung Oroanop, Tsinga, Hoya, dan Kampung Banti. Setidaknya saat ini sudah lebih 19 ribu hektare lahan di empat kampung ditanami pohon yang dibibitkan dengan sistem tumpang sari.

Sebelum dipanggang, biji kopi disaring untuk mendapatkan biji kopi yang pas. Beberapa varian Kopi Amungme juga tersedia, seperti biji kopi utuh, atau yang sudah dihaluskan dan bisa langsung diseduh. Terakhir, kopi yang selesai dipanggang atau digiling kemudian dikemas dalam kantung kemasan bernuansa hitam yang elegan dan mewah.

Kopi Amungme sebenarnya termasuk golongan kopi Arabica yang memang cocok tumbuh di Papua. Untuk membeli kopi ini, pelanggan bisa langsung datang ke unit pengolahan kopi Amungme di Timika. Selain itu, kopi ini juga tersedia di Supermarket Hero Kuala Kencana atau Tembagapura yang tidak jauh dari komplek Freeport.

“Kopi Amungme itu aslinya kopi Arabica yang cocok tumbuh di Papua,” jelasnya.

Katanya pula, kedai kopi bertaraf internasional pun tidak kalah untuk bisa merangkul kopi Amungme sebagai salah satu hidangan mereka.

“Starbucks mau mengadakan kerjasama tapi kami stok masih terbatas. Ambil biji kopi harus pakai chopper untuk kami produksi lagi,” kata Arnold.

Kopi ini dibanderol dengan harga bervariasi mulai dari Rp50 ribu hiingga Rp100 ribu tergantung dari berat kopi dalam kemasan dan pangsa pasarnya.

“Baik kopi bubuk atau masih berbentuk biji kopi yang sudah disangrai dalam kemasan kalau di jual ke luar tentu harganya lebih mahal. Macam sekarang di Jakarta ada pameran dari Papua, kami juga pasarkan Kopi Amungme disana,” tambah Arnold.

Yang menarik dari kunjungan itu, setiap wartawan membawa ole-ole satu bungkus kopi amungme gold bubuk kemasan 250 gram.

Sementara itu, Superitenden Marketing sekaligus merangkap Administrasi dan Sekretaris Koperasi Amungme Gold Coffee, Harony Sedik  saat itu menjelaskan Pembudidayaan kopi ini awalnya dimulai pada tahun 1998 melalui dukungan PT Freeport Indonesia dengan program Highland Agriculture Development (HAD), dengan membuka perkebunan kopi di dataran tinggi. Bibit kopi pertama kali diimpor dari daerah Nabire atau Paniai.

“Ini program HAD yang didampinngi SLD PT Freeport untuk membina masyarakat lokal dataran tinggi di berapa wilayah Amungme,” jelasnya.

Lebih lanjut, katanya, kopi ini tumbuh dari varietas khusus kopi arabica yang telah dikembangkan di dataran tinggi Papua selama 40 tahun.

Waktu itu dikembangkan secara organik dan ditanam oleh suku asli Papua.

Untuk produktivitasnya, kapasitas 1 ton itu tidak mencukupi 2 bulan sebab peminatnya meningkat.

“Kadang kami juga kewalahan karena permintaan pasar tinggi, tidak saja dari Timika tapi juga dari luar Timika,” tuturnya.
Diakui pula, harga kopinya sedikit mahal karena pengangkutan biji kopi sebelum diproduksi menggunakan transportasi helikopter.

“Sewa chopper 3.000 USD satu jam. Itu ke tiga desa dan kembali ke Timika. Ambilnya setiap bulan sekali langsung tiga kampung. Biji kopi diambil dari petani dalam kondisi belum dikupas seharga Rp 35 ribu/kg. Satu kali monitoring  pihak koperasi membeli 25 kg biji kopi yang belum dikupas dari satu petani.  Jadi satu kampung sekitar 500 kg. Sehingga untuk satu kali pengangkutan, bisa 1,5 ton.

Saat ini ada 24 petani dari tiga desa Amungme yang menjadi binaan koperasi dengan total perkebunan 3 hektar.

“Tanaman kopi dipupuk dengan tanaman bernitrogen serta material kompos dan multus hutan alami. Jadi tidak ada pupuk dan pestisida impor yang dipakai,” ungkapnya.

Bahkan, amungme gold strukturnya full-body dan sedikit asam rasanya. Tak pelak kopi ini memiliki aroma rasa yang sangat berbeda dengan rasa mocha dengan after-taste (rasa yang tertinggal). Bagi siapapun yang mencoba pasti ketagihan.

Tanah Papua tak boleh dipandang sebelah mata, bukti bahwa kopi Amungme Gold mampu menembus pasar internasional menandakan Bumi Cenderawasih beserta masyarakatnya memiliki potensi untuk memiliki kehidupan yang lebih cerah. (yosepina dai dore)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *