LPMAK Launching Buku Sejarah Suku Amungme

TIMIKA, TimeX Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro (LPMAK) kembali meluncurkan (launching) buku ‘Amungme’ guna mengangkat kehidupan generasi kini.

Launching buku yang ditulis Kal Muller dan Yunus Omabak dibuka.

>>Mengangkat Kehidupan Generasi Kini

TIMIKA, TimeX

Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro (LPMAK) kembali meluncurkan (launching) buku ‘Amungme’ guna mengangkat kehidupan generasi kini.

Launching buku yang ditulis Kal Muller dan Yunus Omabak dibuka secara resmi oleh Wakil Sekretaris Eksekutif Bidang Pendidikan dan Kesehatan LPMAK, Vebian Magal.

Prosesi launching di Aula MPCC, Senin (13/2) kemarin ditandai dengan penyerahan buku ‘Amungme’ secara simbolis oleh Febian Magal kepada perwakilan Lemasa, Pemda Mimika yang diterima perwakilan dari Dinas Pendidikan.

Lainnya, perwakilan yayasan dari Keuskupan Timika,  perwakilan akademisi dari UTI, sedangkan utusan pelajar tingkat SMA diwakili SMK Pelayaran.

Kemudian tingkat SMP diwakili SMP YPPK St.Bernardus, serta perwakilan sekolah pola asrama diberikan kepada Asrama Taruna Papua.

Hadir pada saat launching, Kepala Biro Pendidikan LPMAK, Titus Kemong, termasuk para Kepala Sekolah (Kepsek) binaan LPMAK dan lainnya yang ada di Timika.

Prosesi launching waktu itu diawali ibadah singkat yang dipimpin Pastor Honoratus Pigai, Pr.

Selain itu, diikuti dengan menyanyikan lagu ‘tanah Papua’ menyusul parade buku oleh siswa-siswi SMA Advent dan diskusi bedah buku.

Vebian Magal dalam sambutannya, mengatakan buku ‘Amungme’ merupakan edisi kedua dari edisi pertama yang di launching PT Freeport Indonesia dalam versi Bahasa Inggris.

Buku edisi kedua, kata dia  mengangkat  sejarah tentang kehidupan generasi Amungme. Dengan maksud generasi masa kini dan yang akan datang dapat memahami dan mengatahui tulisan tentang Amungme serta sejarah  maupun adat istiadat suku besar di tanah Amungsa.

“Kita kerjasama dengan Dinas Pendidikan sehingga kedepan bisa menghasilkan buku-buku melalui sinergi serta dapat mengetahui berbagai informasi yang akurat dari edisi buku yang diterbitkan,” tandasnya.

Sementara itu, penulis buku ‘Amungme’ Kal Muller menjelaskan sinopsis buku tersebut mengisahkan tentang sejarah dan adat istiadat suku Amungme.

“Maksud dan tujuannya agar anak Papua dapat berbicara bahasa daerah dari masing masing suku, karena masalah pendidikan bagi orang Papua menjadi komplek lantaran tidak ada buku bahasa indonesia tentang adat istiadat maupun sejarah suku Amungme.

Saya lihat buku ada banyak yang salah, maksud saya dengan adanya buku ini, anak-anak Papua khususnya dapat mengetahui sejarah serta adat istiadat lokal setempat,”ujarnya.

Kata Kal Muller, referensi sumber buku tersebut diambil dari buku-buku jaman belanda.

“Memang mengartikulasikannya dan menulis tentang adat istiadat Amungme sangat sulit.  kendalanya karena tidak mengetahui bahasa Amungme sehingga penerjemahan buku tersebut melibatkan Kepala suku Amungme, Yunus Omabak,” terangnya.

Katanya pula, untuk penyusunan naskah buku memakan waktu 1 tahun, karena disaat menulis  buku membutuhkan waktu 6 bulan dan koreksi buku  3 bulan.

“Pesan saya, buku ini harus diketahui anak-anak Papua termasuk warga pendatang,” tutupnya.

Sementara itu, Yunus Omabak menambahkan, pemerintah daerah melalui dinas terkait kiranya dapat mendukung dan mendistribusikan buku-buku  ini agar diketahui khalayak luas

“Bisa disalurkan ke sekolah-sekolah. Kalau ada kekurangan dalam isi buku ini, baik bahasa maupun tulisannya dapat diperbaharui agar mudah diakses anak sekolah. Kita harap  lima tahun lagi sudah ada buku Amungme jilid terbaru,”harapnya. Sedangkan Kepala Biro Pendidikan LPMAK, Titus Kemong menegaskan, hadirnya buku Amungme diharapkan dapat meningktkan khasanah budaya Amungme dan Kamoro di Mimika.

Pasalnya, sejak tahun 2013-2014 sudah mencetak buku yang mengandalkan orang asli dari pesisir pantai selatan Papua, dataran tinggi Papua, Amungme dan Kamoro melalui kerjasama  Keuskupan Timika dan tokoh antropolog, Kal Muller.

“Kita apresiasi dan terima kasih kepada Kal Muller, karena bukan hanya orang asing yang merefleksikan tulisan mengenai suku Amungme dan Kamoro, tetapi anak asli Papua juga harus bisa menulis tentang kearifan lokal daerahnya. Saya bangga karena buku ini mengangkat sejarah suku dan adat istiadat Amungme,”pungkasnya. (yan)

2 Comments

  1. Retno Mumpuni

    2 May 2017 at 2:10 PM

    bagaimana sy bisa memperoleh buku tersebut pd link diatas?? butuh informasi segera

    • Absir Hamzah

      31 May 2017 at 9:50 AM

      coba bisa tanya langsung ke Kantor LPMAK jl. Yos Sudarso dekat Lampu Merah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *