Mapuruppuwau Orang Pertama yang Meninggal di Mimika

  • Sejarah dan Misteri Patung Mapuruppuwau
Sebuah daerah dikenal dari situs sejarah. Seperti kisah patung Liberty di New York, merupakan hadiah dari rakyat Prancis kepada rakyat Amerika saat ulang tahun kemerdekaan Amerika yang ke-100. Ini merupakan ungkapan persahabatan antara kedua negara. Sama halnya dengan fakta sejarah dan misteri Patung Mapuruppuwau di Kampung Mware, Kabupaten Mimika.

Patung Mapuruppuwau di Kampung Mware, Kabupaten Mimika

Sebuah daerah dikenal dari situs sejarah. Seperti kisah patung Liberty di New York, merupakan hadiah dari rakyat Prancis kepada rakyat Amerika saat ulang tahun kemerdekaan Amerika yang ke-100. Ini merupakan ungkapan persahabatan antara kedua negara.

Sama halnya dengan fakta sejarah dan misteri Patung Mapuruppuwau di Kampung Mware, Kabupaten Mimika.

 

Untuk lebih memaknai situs Patung Mapuruppuwau, sebuah patung manusia dengan miniatur dua ekor anjing di sisi kini dan kanannya, tentu punya latar belakang sejarah.

Untuk mempertahankan ceritera rakyat warga asli Suku Kamoro, dimana tempat dibangunnya patung tersebut, yaitu di Kampung Mware, Distrik Mimka Timur, maka Pemda Mimika melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Mimika melengkapinya dengan membangun taman keanekaragaman hayati.

Inaugurasi peresmian taman tersebut, Sabtu (19/8) lalu merupakan sebuah upaya agar kearifan lokal budaya setempat tetap terpelihara.

Jumat (18/8) lalu, sehari sebelum peresmiannya, wartawan Timika eXpress mendatangi lokasi tersebut untuk mencari tahu kisah sejarah patung Mapuruppuwau.

Adalah Kepala Suku Mware, Sabinus Kaokoyahe, yang ditemui.

Sosok pria murah senyum itu pun mulai berkisah menjawab pertanyaan yang dilontarkan.

Kisah Mapuruppuwau, kata Sabinus, menurut orang tetua dulu, dalam sejarah Kampung Pigapu dan Mware, adalah suami dan istri.

“Pigapu dimaksud suami, dan Mware adalah istrinya.

Mapuruppuwau pun disebut sebagai orang pertama yang meninggal di Mimika.

Arti harafiah dari Mapuruppuwau sendiri, Mapuru adalah mama dan Wau adalah anak,” ceritera awal Sabinus kepada Timika eXpress di lokasi tugu Mapuruwau, Kampung Mware, Distrik Mimika Timur, Jumat   lalu.

Dalam kisah sejarah disebutkan pula, Pigapu dan Mware awal bertemu lantas menjadi satu keluarga yang kemudian memiliki keturunan.

Mapuruppuwau yang dulu dikenal memiliki seorang anak mantu lantas memperkenalkannya melalui prosesi adat kepada sanak keluarga.

Dalam tradisi lokal warga setempat, sebagai menantu tentu ada pantangan yang harus ditaati.

Karenanya, saat prosesi adat perkenalan itu, oleh keluarga Mapuruppuwau diingatkan agar anak mantunya jangan sampai mengkonsumsi makanan dan minuman yang diharamkan.

Tanpa sengaja saat pesta adat, anak mantu Mapuruppuwau mengkonsumsi makanan yang diharamkan.

Karena melanggar tradisi adat, meski telah diingatkan sebelumnya oleh keluarga Mapuruppuwau, maka petaka pun menimpanya (anak mantu).

“Jadi dia mungkin salah makan ikan ka jadi akhirnya kena musibah,” ceritera Sabinus.

Keesokan harinya, putri Mapuruppuwau bernama Maimaroh kehabisan makanan, lantas menyuruh suaminya (anak mantu Mapuruppuwau ) mencari makanan untuk anak-anak mereka.

 

Maimaroh bersama istrinya pun pergi mencari makanan melewati Kampung Popokopa, tidak jauh dari Kampung Pigapu.

Tiba di kampung itu, Maimaroh dan suaminya menebang pohon sagu dan mulai memangkurnya hingga mendapat banyak sagu.

Suami Maimaroh saat itu pun menyiapkan tumang untuk mengemas sagu dari hasil yang diperoleh.

Saat memotong pelepah pandan untuk membuat tumang, tiba-tiba saja suami Maimaroh berteriak… adoooooooooo.

Maimaroh sontak berteriak, ‘kenapa pergi jauh-jauh, disini di dekat saja.

“Ternyata dia dipukul sama ipar-iparnya karena salah makan ikan dari upacara adat, dan akhirnya meninggal,” papar Sabinus.

Anehnya, saat sang istri Maimaroh hendak memikul tumang berisi sagu didalamnya, sekejap hilang.

Rasa takut dan gelisah menyelimuti suasana bathin Maimaroh.

Lebih menakutkan lagi, tiba-tiba ada suara roh bertanya kepada Maimaroh.

“Mau kembali tapi bawa apa?”.

Suara roh yang muncul dari jelmaan ‘binatang-binatang’ lalu membuat perahu di tanah dan diminta oleh roh (suami Maimaroh) untuk dimasukan ke kali.

Saat dimasukan ke kali, perahu itu miring sebelah.

Meski demikian perahu tersebut terus mengarungi kali untuk bisa sampai ke rumah.

Sekembalinya, anak-anak dari Maimaroh hanya melihat bapanya.

“Mereka (anak-anak) pun menemui bapaknya.

Waktu itu suami Maimaroh yang sudah meninggal tanya dia punya anak-anak, mama dimana?”, dan anak-anaknya jawab kalau mama sudah kawin lagi. Mama dengan ‘bapa ade’ ada ambil kulit kayu untuk buat pakaian,” ujarnya.

Misterinya, dalam ujud roh, suami dari Maimaroh setelah mendengar penjelasan langsung membunuh anaknya di dalam perahu.

Suami Maimaroh pun berangkat ke Kampung Atuka.

Dia pun minta kepada dua ibu di Kampung Atuka agar memberikan saudara mereka kepadanya.

Dengan jaminan dia (suami Maimaroh) akan memberikan anak perempuannya.

Namun almarhum (suami Maimaroh) urung  memberi, dan akhirnya masyarakat Atuka tahu bahwa dia adalah orang mati.

Untuk mengenang kisah sejarah ini, maka dibuatlah patung tete Mapuruppuwau sebagai orang Wania agar dikenang dan dilestarikan melalui “Taman Keaneragaman Hayati Mapuruppuwau yang dibangun Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Mimika dari APBD tahun 2015-2016. (santy sang/gren talubun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.