Komix Hanya Bisa Dijual di Apotek

TIMIKA, TimeX Staf Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan BPOM, Iin Siti Korinah mengatakan, obat jenis komix hanya bisa dijual di apotek dan toko obat.

Staf Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan BPOM, Iin Siti Korinah.

TIMIKA, TimeX

Staf Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan BPOM, Iin Siti Korinah mengatakan, obat jenis komix hanya bisa dijual di apotek dan toko obat.

“Komix ini salah satu komposisinya adalah DMP (dekstro). Kenapa disalahgunakan, karena yang mereka cari adalah dekstronya. Dextronya susah didapat  akhirnya mereka larinya ke komix. Komix itu dikategorikan sebagai obat bebas terbatas yang bisa diperoleh secara bebas tetapi dengan berbagai keterbatasan,” kata Iin Siti Korinah kepada wartawan di ruang Sat Narkoba Polres Mimika, Selasa (26/9).

Menurut dia, sesuai aturan, obat komix ini hanya bisa  diedarkan atau dijual di toko obat dan apotek. Sebaliknya,  tidak boleh dijual di kios atau warung.

“Jika di apotek, penjualannya terbatas, apalagi untuk komix yang disinyalir digunakan hanya boleh diditribusikan dalam jumlah yang dibatasi dalam jumlah yang wajar. Jadi mungkin, maksimal lima saset dan itu berdasarkan aturan tertulis kegunaan obat itu,”ungkapnya.

Katanya, komix merupakan obat batuk. Jika dikonsumsi ketika batuk dan tidak sembuh dalam waktu dua-tiga hari maka sebaiknya harus diperiksa oleh dokter.

“Ketika tidak bisa diobati dengan komix, sebaiknya harus pergi ke dokter dan mengkonsumsi obat berdasarkan resep dokter makanya minum obat batuk ini dibatasi,”imbuhnya.

Lanjut dia, untuk komix ini ada ijinnya jika kemasan dalam bentuk kombinasi dengan obat lain.

“Ijin yang sudah ditarik adalah komix DT atau yang mengandung  dekstometorfan tunggal sejak Juni 2014,” jelasnya.

Dikombinasi supaya jumlah DT yang di dalam dan untuk mengeluarkan DT di dalamnya itu sulit untuk menariknya jadi, kombinasi ini yang boleh tetapi tidak boleh ada di swalayan, kios, warung dan minimal ada di Toko Obat,”ungkapnya

Lanjutnya, untuk logo hijau yang parecetamol itu obat bebas yang berarti bebas diperoleh dan di dapat seperti di swalayan, toko-toko dan kios tetapi kalau yang biru ini obat bebas terbatas dan dia dikeluarkan dengan adanya peringatan yang mana peringatannya menggunakan P1 baca aturan pakai.

“Kita menggunakan ini dengan memperhatikan bahwa aturan pakai yang ada dimana tertulis 3×1 sampai dua saset. Bukan minumnya satu kali 10 saset tidak, itu salah jika ia menggunakanya lebih dari aturannya maka ada penyalahgunaan,”ungkapnya

Lanjutnya, bahwa pigaknya tidak akan lelah unuk mengingatkan apotek untuk membatasi penjualan komix, tetapi kalau ada beberapa apotek yang tidak mengindahkan peringatan dari mereka, maka mereka hanya bisa memperingati dengan peringatan saja dan mungkin jika ada pelanggaran menjual hingga berbox box seperti itu, maka tidak menutup kemungkinan apotek itu akan di tutup dan di beri sanksi penutupan.

Katanya, Karena kalau apotek yang dipidanakan tidak pas juga, secara obatnya benar cara pendistribusiannya yang salah kecuali obatnya itu dalam jumlah besar yang dikios atau diwarung itu yang akan dilimpahkan ke kepolisian untuk kemudian di proses secara hukum

Menurutnya, BPOM, Dinas Kesehatan dan Kepolisian perlu bersama-sama menelusuri dari mana sebenarnya mereka mendapatkan itu dan memutus dari ujungnya. Ketika komix itu tidak di distribusikan ke ranah ilegal otomatis penyalahgunaannya akan susah mendapatkannya karena di sarana legal pihaknya sudah awasi sedemikian rupa dan akan di potong pemasokannya.

“Saya pikir bisa jadi distributornya yang mendapatkannya secara ilegal juga. Jadi, bisa ditelusuri distributori ini mendapatkannya dari mana sehingga kita bisa memotong dari hulunya karena distributornya mendapatkannya,”pungkasnya. (aro)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.