Wujudkan Pelayan Kesehatan Yang Prima dan Optimal

TIMIKA,TimeX Mulai tanggal 2-5 Oktober 2017, bertempat di Aula Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM), Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Mimika menyelenggarakan pelatihan Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS).

FOTO BERSAMA – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika Philipus Kehek, Ketua DPD PPNI Mimika Samuel E G J Kermite dan Ketua panitia pelatihan Elizabeth Mandosir foto bersama peserta dari Rumah Sakit Abepura Jayapura usai pembukaan pada Senin (2/10). Foto: Antonius Djuma/TimeX

DPD PPNI Mimika Selenggarakan Pelatihan BTCLS

TIMIKA,TimeX

Mulai tanggal 2-5 Oktober 2017, bertempat di Aula Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM), Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Mimika menyelenggarakan pelatihan Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS).

Kegiatan dengan mengusung tema ‘Dari Timika Untuk Indonesia’, ini diikuti 68 peserta yang berasal dari Puskesmas Timika Jaya, Puskesmas Timika, Puskesmas Pasar Sentral, Kwamki Narama, Jili Ale dan Prodi Keperawatan D3 Kelas Timika.

Lainnya Rumah Sakit Abepura Jayapura, Aroanop, RSMM serta perwakilan dari Kabupaten Nabire dan RS Chandra.

Pelatihan BTCLS dari kerjasama DPD PPNI  Mimika dengan manajamen RSMM, secara resmi pembukaannya dilakukan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika, Philipus Kehek.

Kadinkes Mimika, Philipus Kehek dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan DPD PPNI dalam rangka meningkatkan kualitas profesional tenaga medis kesehatan sehingga memberikan pelayanan kesehatan yang prima dan optimal kepada masyarakat Mimika.

Ia berharap peserta kegitan menyimak baik pelatihan sebagai bekal dalam pelayanan di tempat tugasnya masing-masing.

Hal ini merujuk pada tuntutan Millennium Development Goals (MDGs) dunia kesehatan, bahwa untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang prima dan berkualitas, petugas medis dituntut memiliki kompetensi, skill dan ilmu pengetahuan yang mumpuni.

“Selama dua tahun jabat Kepala Dinas Kesehatan, dalam pengawasan langsung di lapangan tidak dipungkiri bahwa pelayanan kesehatan mengalami penurunan cukup drastis. Indikatornya masih banyak keluhan dari masyarakat soal pelayanan petugas kesehatan yang mereka terima,” terang Kehek.

Ia mencontohkan seorang petugas medis dalam menangani pasien tentu harus berpengalaman sehingga penanganannya sesuai stand operasional prosedur (SOP).

“Kalau petugas medisnya masih baru, tentu perlu pendampingan agar pasien terlayani dengan baik dan merasa puas, bukan menuia kekecewaan,” tandasnya.

Sementara Direktris RSMM dr. Eni Malonda pada kesmepatan yang sama mengungkapkan, bahwa  BTCLS penting bagi tenaga perawat dan bidan.

“Peserta kegiatan tidak perlu ragu bahkan takut akan kualitas instruktur yang ada, mengingat semuanya sudah terakreditasi serta punya kompetensi di bidangnya. Kita disini berlatih untuk menghasilkan pelayanan medis yang oprimal,” tukasnya.

Selanjutnya, Ketua DPD PPNI Mimika, Samuel E.G.J Kermite menjelaskan, sejak dilantik 27 Maret lalu, dengan mengemban visi misi memajukan organisasi profesi bagi perawat dan bidan. Sekaligus meningkatkan sumber daya manusia (SDM), yakni  perawat dan bidan agar lebih terampil dan profesional dibidangnya.

“Untuk jadi profesional, seorang bidan atau perawat harus terus dilatih. Jadi kalian tidak perlu ragu dengan kompetensi para narasumber, baik dokter perawat yang sudah 10 tahuh lebih mengabdi,” ujar Samuel sembari berharap suatu ketika orang dari luar Papua datang berlatih di Timika.

Lanjut dia, PPNI memilih kerjasama dengan RSMM karena dinilai dari kapasitas SDMnya serta ketersediaan fasilitasnya,” jelas Kermite bangga.

Sementara Ketua Panitia Pelatihan BTCLS, Elizabeth Mandosir mengaku bangga karena peserta maupun pelatihnya, semuanya  dari Timika.

Ini menunjukan bahwa kita di Timika pun mampu dan jadi kebanggaan, karena apa yang dilaksukan PPNI bersama RSMM  ternyata daerah lain di Papua belum berani melaksanakan seperti ini.

“Jadi dengan tema yang kami usung, ‘Dari Timika Untuk Indonesia’ ini sangat tepat.

Sebab, kata Elizabeth, salah satu syarat sebuah puskesmas mengikuti akreditasi, perawat yang bekerja di fasilitas kesehatan tersebut harus mengantongi sertifikat BTCLS.

Elisabeth pun mengaku bangga karena dari target hanya 40 peserta ternyata melebihi.

Dijelaskan, selama empat hari pelatihan, materi kegiatan hari pertama, meliputi pelatihan BTCLS dan membangun komitmen, aspek etik dan legal dalam pelayanan gawat darurat.

Serta sistem pelayanan gawat darurat terpadu (SPGDT), pengkajian awal/Initial Asessment,  pengelolaan air way dan breathing, pengelola circulation/syok.

Sementara pelatihan hari kedua, Selasa hari ini materi yang diajarkan meliputi bantuan hidup dasar (dewasa, anak dan bayi), mekanisme trauma, penatalaksanaan kegawatan cedera kepala, penatalaksanaan kegawatan trauma thoraks dan abdomen dan penatalaksanaan kegawatan trauma muskuloskeletal luka dan pendarahan.

Lainnya pembalutan dan pembidaian, mengangkat dan memindahkan pasien, pengenalan obat-obat emergency, penatalaksanaan gigitan ular berbisa.

Pelatihan hari ketiga materinya tentang triase, proses rujukan, elektrokardiografi, penatalaksanaan gangguan irama jantung yang mengancam nyawa, praktek pengelolaan air way dan breathing, praktek rasusitasi jantung paru dewasa, praktek rasusitasi jantung paru anak dan bayi.

Dan hari terakhir diajarkan praktek perekaman dan analisa aritmia lethal, praktek pembalutan dan pembidaian, praktek mengangkat dan memindahkan korban, praktek melakukan pengkajian awal/initial asessment. (antonius djuma)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.