Kisah Pilu Keluarga Paul Ferdinand Ayorbaba, Korban Jatuhnya Pesawat Lion Air JT 610

TABUR BUNGA – Istri almarhum Paul Ferdinand Ayorbaba, Ningsih beserta tiga anaknya saat menabur bunga ke liang lahat sebelum penutupan makam, Jumat (9/11).
Menangis adalah air mata, dan berpisah untuk selamanya pasti meninggalkan rasa sedih yang mendalam. Kenyataan pahit ini menjadi peristiwa iman bagi keluarga besar Paul Ferdinand Ayorbaba, salah satu korban kecelakaan jatuhnya Pesawat Lion Air JT610. Usai sudah penantian keajaiban, kini tinggal tersisa ceritera kisah hidupnya.
Laporan: Ignasius Istanto – Timika eXpress
INCHY Ayorbaba (33) bersama ketiga anaknya, Ferlin, Nanda, Dika serta keluarga besar Ayorbaba, dan sahabat kenalan hanya bisa menapat meratapi peti jenazah Paul Ferdinand Ayorbaba (43).
Jumat (9/11) menjadi hari terakhir perjumpaan dan perpisahan selama-lamanya dengan almarhum Paul. Paul salah satu dari 189 korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang di perairan Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10) lalu.
Suasana dukan sangat terasa di rumah Jones Ayorbaba di Jalan C. Heatubun, Kwamki Baru Timika tempat jenazah almarhum disemayamkan sejak Kamis (8/11) siang hingga Jumat, sebelum prosesi pemakaman.
Ungkapan bela sungkawa dapat dilihat dari deretan karangan bunga turut membawa keluarga maupun para pelayat dari KKBSU Mimika larut dalam doa hingga puncaknya ibadah pelepasan.
Jenazah Paul dimakamkan di TPU SP1 Kelurahan Kamoro Jaya, Jumat (9/11) sekira pukul 14:21 WIT.
Almarhum dimakamkan tepat di samping makam Luther Ayorbaba ayahnya yang telah mendahuluinya pada Juni 2018 lalu.
Rio Ayorbaba adik kandung almarhum disela-sela prosesi pemakaman kepada wartawan menyatakan dirinya dan keluarga sangat kehilangan sosok sang kakak yang baik, dan selalu melindungi adik-adiknya.
“Dia (almarhum) orangnya sangat baik dalam keluarga. Memang sebelum kejadian dia sempat telepon ibu dan sempat antar anak saya,” kenangnya.
Dari nahas yang menimpa almarhum dirinya tanpa merasa firasat buruk baik dari keluarga termasuk istri almarhum.
Paul yang bekerja di PT Marindo Jaya Sejahtera, Jakarta ikut dalam penerbangan Lion Air JT 610 hanya untuk mengantarkan dokumen ke Pangkal Pinang.
“Almarhum pernah kerja di Freeport Timika sejak 1996, kemudian berhenti di tahun 2011 dan pindah ke Jakarta,” tuturnya.
Meskipun di tengah duka mendalam, keluarga maupun para pelayat yang datang di rumah duka menyempatkan waktu berceritera dengan istri almarhum, Ningsih Ayorbaba yang akrab disapa Inchy untuk memberikan penguatan. Kepergian sang suami rupanya menjadi pukulan berat buat Inchy karena masih memikul tanggung jawab membesarkan ketiga anaknya setelah ditinggal almarhum.
Kisah pilu yang sempat dikutip Timika eXpress di rumah duka dari ceritera Inchy pada Jumat, yakni sebelum Paul Ayorbaba berangkat, dirinya sempat melarang almarhum untuk berangkat dinas ke Bangka Belitung (Babel).
Larangan itu terbersit begitu saja di dalam benak Inchy. Permintaan Inchy beralasan sebab suaminya yang bekerja pada perusahaan pelayaran di Jakarta baru saja pulang dari dinas kerja luar kota.
“Saya memang larang dia, saya bilang enggak usah berangkat dan saya ulang-ulang sehari sebelum berangkat tanpa ada firasat atau apalah,” kata Inchy kepada keluarga dan rekan-rekan korban di rumah duka, setibanya jenazah di rumah duka.
“Saya bilang, kan baru pulang dari Banten dan Palembang satu bulan, kok berangkat lagi,” tambah Inchy.
Inchy mengaku sebelum berangkat ia sempat mengirimkan video saat naik pesawat yang direkamnya melalui smartphone. Padahal selama berpergian suaminya tidak pernah mengirimkan video seperti itu.
“Selama dia tur, baru kali ini dia kirim video.Ppadahal sering berpergian. Baru kali ini ke Pangkal Pinang dan baru kali ini rekam video,” ujarnya lirih.
Hal senada juga diungkapkan ibu kandung Paul, Titje Makalew yang mendampingi menantunya.
“Kalau sebelum nahas itu, Paul memperlihatkan sejumlah hal yang lain dari biasanya. Misalnya dia posting boarding pass, padahal sebelumnya anak ketiga dari lima bersaudara termasuk jarang unggah sesuatu di medsos,” kata Titje tegar.
Titje pun ikut mendampingi putra-putrinya ke Jakarta menanti keajaiban dari musibah yang menimpa anaknya.
Sehari setelah jatuhnya Pesawat Lion Air, Titje ditemani anaknya yang lain langsung berangkat ke Jakarta dan tiba Selasa (30/10) sore.
“Dari Manado saya ke Jakarta dengan adik Paul, dan keluarga yang lain dari Timika langsung ke Jakarta,” katanya.
Single parents ini terlihat pasrah akan kondisi anaknya, sebab mulai awal menerima khabar tersebut, ia sudah berdoa pada Tuhan untuk kuatkan hatinya.
“Saya cuma doa ke Tuhan kuatkan batin hati kami keluarga, dan kalau pun anak saya Paul meninggal, yang saya kehendaki adalah jasadnya bisa ditemukan,” tandasnya.
Keajaiban atas doa keluarga baru terkabulkan setelah pencarian dan proses identifikasi selama delapan hari oleh pihak DVI RS Polri Kramat Jati, tepatnya Selasa (6/11) malam lalu.
Jazad almarhum Paul, pria berusia 43 tahun itu berhasil diidentifikasi tim DVI RS Polri melalui pemeriksaan DNA.
Saat peti jenazah Paul dibawa keluar oleh pihak kepolisian dari ruang Instalasi Kedokteran Forensik, menyusul penyerahan dokumen kepada pihak keluarga, sontak isak tangis menyelimuti keluarga korban.
Saat itu juga keluarga korban Paul langsung mengelilingi peti jenazah Paul.
“Waktu peti jenazah dibawa keluar dari ruangan instalasi kedokteran forensik, Inchy tidak menangis, hanya matanya bengkak dan berkaca-kaca karena sudah menangis dan sedih sejak awal musibah. Kami keluarga saat itu bersama-sama langsung doa untuk almarhum,” imbuhnya.
Semua kisah perjalanan hidup Paul Ayorbaba yang pernah bekerja sebagai petugas pengamanan internal PT Freeport Indonesia sejak 1996 hingga mungundurkan diri 2011, dan memilih bekerja di perusahaan pelayaran di Jakarta, kini tinggal kenangan.
Jenazah almarhum Paul telah dikebumikan pada, Jumat (9/11) di TPU SP 1 Kelurahan Kamoro Jaya, Distrik Wania Kabupaten Mimika. Tubuh fananya kini sudah menyatu bersama ibu pertiwi. Namanya kini terukir jelas di sebuah batu nisan yang tertanam pada pusara. Jiwa raganya hidup kekal di dialam keabadian tanah air surgawi. (*)